Angger-angger Sewelas


Angger-angger sewelas adalah ajaran tentang kehidupan yang diajarkan oleh Romo RPS Sastrosoewignjo atau lebih dikenal dengan Romo Pran-Soeh. 

Mengisahkan tentang 11 pedoman/aturan kehidupan di dunia yang terdiri atas 7 kewajiban : 

1. Setia dan taat kepada Sang Pencipta dan utusannya 

2. Setia dan taat kepada pemerintah dan aparatur negara 

3. Cinta terhadap orangtua dan berbakti pada leluhur 

4. Cinta kasih terhadap anak istri dan anggota keluarga 

5. Cinta kasih terhadap sesama mahluk hidup di dunia 

6. Giat bekerja dan selalu menepati janji 

7. Berbudi luhur, adil dan belas kasih


Sedangkan 4 larangan adalah : 

1. Tidak berzina 

2. Tidak beristri lebih dari 1

3. Tidak berbudi buruk atau nista

4. Tidak melakukan hal yang bertentangan dengan 7 kewajiban diatas. 

Dengan menjalankan 11 peraturan ini niscaya manusia akan hidup dalam suasana aman dan damai baik secara lahir dan bathin. 

Dari awal tahun 2024 kelas kami yang dulu bernama kelas Drupadi digabung dengan kelas Anjani agar memenuhi kuota peserta didik dalam satu kelas yang minimal 15 orang. Kelas baru ini diberi nama kelas Dewi Sri. 


 Tarian pertama yang kami pelajari setelah bergabung menjadi kelas Dewi Sri adalah Bedhayan Angger-angger Sewelas ciptaan ibu Dewi Sulastri. Tarian ini pertama kali ditampilkan pada Festival Bedhayan 2023 yang diadakan di dekat Candi Sari, Kalasan, Yogyakarta dan dibawakan dengan sangat apik oleh grup Swargaloka dengan penari-penarinya yang sangat terlatih. 

Seperti biasa, ibu Dewi mempunyai kepercayaan besar pada kelas kami untuk membawakan tarian terbarunya, sekaligus untuk transfer memori atas tarian gubahan baru, biar sama-sama menghafal gerakannya. Namun bukan bu Dewi kalau tidak kasih tantangan,apalagi ke kelas kami yang menurut beliau adalah kelas paling senior, jadi ga ada yang ga bisa. Harus bisa apapun materinya. Siap buuu... Kami terima dengan ikhlas kok. 

Setiap tarian (terutama tarian bedhayan) punya kisahnya sendiri. Demikian pula dengan tarian ini, ada beberapa kejadian yang kalo dipakai ilmu cocokologi kok ya bisa aja.. Pertama, kelas tidak pernah lengkap. Selalu ada aja penari yang cuti atau ijin saat latihan rutin. Ditambah lagi ini perdana kelas gabungan Drupadi dengan Anjani, yang belum ada chemistry satu dengan yang lain. Bahkan ada beberapa yang hadir latihannya sangat minim, sehingga ibu harus mengajarkan berulang-ulang. 

Kedua, tarian ini lagunya sangat samar dari segi ketukan. Jadi harus benar-benar mendengarkan gong, kenong atau kendangan untuk setiap perpindahan gerak, atau minimal mendengarkan syair yang dinyanyikan supaya gerakan menjadi pas dan bersamaan. 

Ketiga, gerakan tarian ini banyak sekali modifikasi gerak dasar, sepertinya karena ibu Dewi menggubah tarian ini untuk Swargaloka, gerakannya sudah pasti tidak hanya gerakan dasar. Bahkan beberapa gerakan membutuhkan stretching dan olahtubuh terlebih dulu sebelum memulai tarian secara penuh. Ada gerakan setengah kayang itu loooh.. wow kan. 

Teman-teman kelas Dewi Sri yang berasal dari kelas Anjani memang perlu ekstra kerja keras untuk bisa mendalami gerakan-gerakan yang sudah cenderung advance ini, beneran susah kok. Bahkan saat ditanya berapa orang yang akan ikut pentas dengan tarian ini, beberapa teman secara sadar menyatakan mundur atau tidak ikut pentas. Sehingga dari total penari 21 orang yang terdaftar, hanya 13 orang yang bersedia tampil dalam pentas sokalima. 

Nah, kembali lagi ke drama bedhayan versi angger-angger sewelas. Setelah 13 orang secara intens latihan dengan pola lantai yang sudah disederhanakan dari pola lantai aslinya yang ditarikan Swargaloka, tetep untuk mencari kekompakan gerak masih jauh dari rapi. Bahkan untuk 13 orang yang termasuk banyak untuk tarian bedhayan, pola lantainya dirubah sampai beberapa kali, bahkan sampai H-30 hari pun polanya masih dirasa belum pas. Ini bisa dibilang jadi drama keempat ya, masalah pola lantai ini. 

Puncak dari drama bedhayan ini adalah saat H-21 mendadak Ayu harus dirawat karena drop, anemia dan harus transfusi. Masih berharap sakitnya hanya sebentar, tapi ternyata H-14 drop lagi dan benar-benar harus bedrest. Alhasil, formasi pola lantai pun berubah lagi dengan 12 orang. Walaupun agak kurang sesuai pakem karena bedhayan biasanya harus ganjil, tapi kita tetap berpikir positif untuk hasil yang terbaik. 

Pola lantai sudah makin tampak rapi, tinggal dirapikan sedikit dengan latihan tambahan. H-7 berita baru lagi, Pingkan otot punggung nya ketarik dan ga bisa gerak, harus fisioterapi dan ga mungkin bisa sembuh dalam 7 hari. Wow... alhasil pola lantai dibuat lagi sampai akhirnya terlontarlah kata-kata kunci dari Ayu yang bilang, "Emang tariannya harus 11 orang ini... ga boleh lebih" 

Baiklah. Setelah ada "quotes" tersebut barulah aku mencoba browsing tentang apa sih sebenarnya makna yang tersirat dari tarian ini. Berbekal nama Romo Pran-Soeh yang disebutkan oleh ibu Dewi, berhasil kutemukan lah betapa dalamnya isi ajaran angger-angger sewelas ini. Bahkan menilik lebih jauh lagi tentang Romo Pran-Soeh, kudapati bahwa beliau adalah tokoh penghayat yang mempunyai banyak pengikut, guru yang disegani dan dikenal sebagai orang yang sangat kuat dalam bertirakat dan beribadah. Bahkan dipercaya bahwa beliau bisa berkomunikasi langsung dengan Yang Maha Kuasa layaknya para wali songo di masa lalu. 

Alhamdulillah pentas berjalan lancar, semua penari juga aman, tidak ada yang terkena sakit atau kejadian yang tidak diinginkan. Seusai pentas, saat bertemu di kelas reguler, kami bersepakat bahwa tarian ini sebaiknya ditarikan saat acara ruwatan saja, seperti saat menarikan bedhayan Dewi Sri. Terlalu kuat isi dari tarian ini untuk ditarikan tanpa ada perayaan. Masih berharap akan ada waktunya untuk menarikan tari ini lagi, mungkin dengan rasa yang lebih ikhlas dan lebih penuh pemahaman akan isi ajarannya, sehingga tarian ini memberi makna pada yang menonton di setiap gerakannya. Terimakasih sudah membaca. Sampai di cerita tarian berikutnya ya...



 

Comments